Jumat, 06 Oktober 2017

SAYA UNTUK KELUARGA DAN INDONESIA


Saya bukanlah seseorang yang memiliki banyak warisan, baik dari segi materi maupun pengetahuan. Orang tua saya hanya membekali saya dengan cerita – cerita penyemangat yang menggugah saya agar memiliki nasib lebih baik dari orang tuanya. Jalan seperti apa yang akan ditempuh oleh anaknya diberikan secara penuh demi kesuksesan anaknya. Seperti orang tua yang kebanyakan, mereka tetap menunaikan kewajibannya untuk memberikan pendidikan kepada anaknya sampai ke jenjang perguruan tinggi. Selanjutnya, orang tua hanya mengirimkan doa untuk keberhasilan jalan yang ditempuh anaknya.
Saat ini saya bukanlah seseorang yang bergelimang harta, berjaringan sosial secara luas dan memiliki kekuasaan akan tahta yang tinggi. Saya yang sekarang adalah seorang pencari sesuap ilmu yang siap mempraktekkan apa yang saya terima di bangku perkuliahan. Ilmu sedikit apapun tetap diterima sehingga nanti bisa dipraktekkan dalam berbagai situasi. Ibarat menyelam sambil meminum air, ilmu tersebut saya daya gunakan sebagai bukti atas teori yang telah diberikan.
Tapi yang namanya perjalanan pasti menghadapi halangan dimana – mana. Halangan tersebut bisa berupa kerikil – kerikil kecil hingga bebatuan besar yang siap menghadang saya kapan saja. Kekurangan sarana teknologi bagi saya sangat mengganggu proses pencarian ilmu yang sedang saya lakukan. Akan tetapi hal ini bukan menjadi sebuah penyurut semangat bagi saya. Saya mulai membangun jaringan dengan banyak orang untuk menutupi kekurangan yang saya punya. Lewat perkumpulan atau organisasi yang saya geluti, saya berinteraksi dan membangun jaringan untuk menutup kekurangan – kekurangan yang saya miliki. Tetapi, lewat organisasi pula saya sadar bahwa ada tanggung jawab yang lebih besar yang saya harus lakukan sebagai mahasiswa yakni turut serta dalam membangun peradaban Indonesia yang lebih maju.
         Sudah sepatutnya bagi mahasiswa untuk tidak hanya berdiam didalam kelas, ataupun hanya aktif menyuarakan suara – suara kaum minoritas. Mahasiswa harus turut serta didalam kedua hal tersebut dan menyeimbangkan segala aspek yang ada untuk bersama membangun Indonesia. Memperbanyak pengetahuan, sambil menyuarakan suara kaum minoritas dapat menjadi opsi yang bisa dilakukan. Begitupun saya. Bukan hanya berdiam didalam kelas tapi saya juga turut serta membantu apa yang sekiranya diperlukan oleh masyarakat sekitar saya. 

Senin, 22 Agustus 2016

Nama : Abdul Rohman NIM :1445162357 #MPAMPFIPUNJ2016



UPAYA MEMAKSIMALKAN PERAN AGAMA DALAM PENDIDIKAN



 Dalam ajaran Islam, pendidikan memiliki kedudukan yang sangat penting karena manusia sebagai wakil Allah SWT di muka bumi memikul tugas dan tanggung jawab yang cukup berat. Oleh karena itu, agar manusia mampu menjalankan tanggung jawabnya dengan baik diperlukan sikap personalitas yang berkualitas dan ilmu pengetahuan yang sesuai dengan kehendak Allah. Hal itu hanya dapat dipenuhi melalui proses pendidikan. Tugas manusia yang pertama adalah menjadi hamba Allah yang taat, sebagaimana firman Allah dalam Al Quran Surat Adz-Dzariyat 56, yang artinya:“ Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mengabdi (ibadah) kepada-Ku. Manusia diperintah untuk beribadah hanya kepada Allah,karena tidak ada tuhan selain Dia. Sembahlah Allah, sekali-kali tak ada tuhan bagimu selain-Nya” (Q.S. Al-A’raaf: 59). Tugas manusia yang kedua adalah sebagai khalifah di muka bumi yang menuntut tanggung jawab yang berat. Tanggung jawab tersebut berkaitan erat dengan pernyataan Allah dalam Al Quran surat Al-Baqarah ayat 30, yang artinya: “Ingatlah ketika Allah berfirman kepada malaikat: Aku akan menciptakan seorang khalifah di muka bumi”. Bumi yang merupakan tempat tinggal bagi manusia untuk sementara, pengelolaanya diserahkan kepada manusia. Hal ini ditegaskan oleh Allah dalam Al Quran surat Al-An’am ayat 165 yang artinya“ Dan Dialah yang menjadikan kamu pengelola bumi ”. Mengelola berarti menjaga, memelihara, melestarikan, memberdayakan dan memanfaatkannya untuk dijadikan sarana penunjang dalam beribadah kepada Allah. Bukan sebaliknya, yakni menciptakan kerusakan di muka bumi atau merasa bangga menjadi perusak alam. Allah sangat membenci orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi dan malapetaka akan menimpa manusia itu sendiri apabila memperlakukan alam sekehendak hatinya, sebagaimana firman-Nya dalam surat Ar-Rum ayat 41 yang artinya : “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. Diangkatnya manusia sebagai khalifah tidak semata-mata perintah Allah, melainkan ada kesanggupan dari manusia itu sendiri, setelah makhluk lain menolaknya karena khawatir akan menghianatinya. Dengan kata lain, hanya manusia yang sanggup mengemban amanah Allah yang maha berat itu. Penghambaan manusia kepada Allah yang dibuktikan dalam bentuk beribadah kepada-Nya, pada hakekatnya merupakan perwujudan rasa syukur atas segala karunia dan ni’mat Allah. Orang yang beriman menyadari bahwa dirinya telah menerima limpahan kasih sayang yang tak terhingga dari Allah, dengan diangkatnya derajat manusia yang lebih tinggi dari mahkluk lainnya. Diberinya akal dan kemampuan berpikir merupakan sarana yang ampuh dalam rangka mengemban tugas sebagai khalifah. Proses pendidikan tidak dapat dipisahkan dengan peranan akal, sehingga pentingnya pendidikan dalam pandangan Islam berkaitan erat dengan penggunaan akal, hati, dan panca indera untuk berpikir dan mendekatkan diri kepada Allah.. Alangkah ruginya manusia yang telah banyak menerima karunia dari Allah, tetapi tidak mau menggunakannya untuk memikirkan ciptaan, kekuasaan, keesaan, dan keagungan sang Maha Pencipta(Allah SWT). Derajat manusia yang tinggi itu dapat jatuh ke tempat yang lebih rendah dari binatang (QS. Al-A’raf: 179). Betapa pentingnya pendidikan, karena hanya dengan proses pendidikanlah manusia dapat mempertahankan eksistensinya sebagai manusia yang mulia, melalui pemberdayaan potensi dasar dan karunia yang telah diberikan Allah. Apabila semua itu dilupakan dengan mengabaikan pendidikan, manusia akan kehilangan jati dirinya. Namun perlu digarisbawahi, bahwa pendidikan yang dimaksud adalah pendidikan berdasarkan konsep Islam sesuai dengan petunjuk Allah.
Secara garis besar, konsepsi pendidikan dalam Islam adalah mempertemukan pengaruh dasar dengan pengaruh ajar. Pengaruh pembawaan dan pengaruh pendidikan diharapkan akan menjadi satu kekuatan yang terpadu yang berproses ke arah pembentukan kepribadian yang sempurna. Oleh karena itu, pendidikan dalam Islam tidak hanya menekankan kepada pengajaran yang berorientasi kepada intelektualitas penalaran, melainkan lebih menekankan kepada pendidikan yang mengarah kepada pembentukan keribadian yang utuh dan bulat. Pendidikan Islam menghendaki kesempurnaan kehidupan yang tuntas sesuai dengan firman Allah pada surat Al Baqarah ayat 208, yang artinya : “Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”. Bagi manusia pendidikan penting sebagai upaya menanamkan dan mengaktualisasikan nilai-nilai Islam pada kehidupan nyata melalui pribadi-pribadi muslim yang beriman dan bertakwa, sesuai dengan harkat dan derajat kemanusiaan sebagai Khalifah di atas bumi. Penghargaan Allah terhadap orang-orang yang berilmu dan berpendidikan dilukiskan pada ayat berikut. “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi pengetahuan derajat (yang banyak) (QS. Al-Mujadalah 11”. Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai ilmu pengetahuan jika kamu tidak mengetahui” (QS, An-Nahl 43). “ Katakanlah :”Adakah sama orang-orang yangmengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui (QS.Az.Zumar:9). Pentingnya pendidikan telah dicontohkan oleh Allah pada wahyu pertama, yaitu surat Al-Alaq ayat 1-5 yang banyak mengandung isyarat-isyarat pendidikan dan pengajaran dengan makna luas dan mendalam. Prilaku Nabi Muhammad saw sendiri, selama hayatnya sarat dengan nilai-nilai pendidikan yang tinggi. Dari kutipan-kutipan di atas dapat disimpulkan bahwa dalam ajaran Islam pendidikan menduduki posisi yang sangat penting. Mengingat bahwa keberadaan manusia di dunia ini mengemban tugas dan tanggung jawab yang berat, baik sebagai hamba Allah maupun sebagai khalifah di muka bumi. Kedua tugas tersebut dalam pelaksanaanya merupakan satu kesatuan yang terintegrasi didalam prilaku seseorang. Dengan demikian, pendidikan memegang peranan penting dalam membentuk manusia yang bersedia mengabdi kepada Allah, dengan menyelaraskan aktivitas peribadatan dalam konteks hablum minallah, hablum minannaas dan hablum minal ‘alam.
Atas dasat itulah, pendidikan yang idealnya dapat meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan serta berupaya merekonstruksi suatu peradaban adalah pendididikan yang memenuhi kebutuhan asasi setiap manusia. Hal ini juga merupakan pekerjaan wajib yang harus diemban oleh negara agar dapat membentuk masyarakat yang memiliki pemahaman dan kemampuan untuk menjalankan fungsi-fungsi kehidupan selaras dengan fitrahnya serta mampu mengembangkan kehidupannya menjadi lebih baik dari setiap masa ke masa. Kesemuanya itu tidak luput dari peran ilmu agama sebagai pembentuk karakteristik dan mental peserta didik yang berbudi luhur. Sehingga, penguasaan terhadap ilmu, pengetahuan-teknologi, aspek-aspek materi (hasil-hasil teknologi) dan kemajuan-kemajuan lainnya merupakan sesuatu yang harus disadari oleh peserta didik sebagai kebutuhan dan kewajiban yang harus selalu dilaksanakan dalam menjaga keharmonisan kehidupan.
Dalam kaitannya mengenai Pendidikan Nasional dijelaskan pada Pasal 1 ayat (2) bahwa, “Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia yang berakar pada nilai-nilai agama kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman. Dalam pasal ini juga dijelaskan bagaimana peranan agama dalam pendidikan dimana pelaksanaan Pendidikan Nasional berakar pada Pancasila dan nilai-nilai agama. Dan dalam UU No.20 Tahun 2003 mengenai Sistem Pendidikan Nasional Pasal 30 Ayat (2) juga dijelaskan bagaimana fungsi keagamaan yang mana pendidikan keagamaan disini berfungsi untuk mempersiapkan perserta didik menjadi anggota masyarakat yang memahami dan mengamalkan nilai – nilai ajaran agamanya dan / atau menjadi ahli ilmu agama. Dan jika para siswa dibekali dengan pengetahuan keagamaan yang lebih maka potensi terciptanya akhlak yang baik oleh siswa akan lebih tinggi. Siswa seharusnya mampu memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Pendidikan keagamaan dalam sekolah formal dirasa memang sangat kurang karena hanya terdapat satu mata pelajaran saja. Akan lebih baik juga mata pelajaran agama sedikit lebih diperbanyak dan dikembangkan menjadi lebih sederhana juga.
Adanya kurikulum bukanlah menjadi elemen satu-satunya pembentuk nilai toleransi di sekolah. Salah satu elemen lain yang sangat menentukan adalah ruang publik sekolah. Ruang publik sekolah (school public space), sederhananya, adalah ruang sosial di dalam lingkungan sekolah yang menjadi tempat berinteraksinya warga sekolah secara terbuka. Ruang ini bukan semata tempat fisik, tapi lebih-lebih tempat bertemu dan berkreasinya siswa.
Bisa saja kurikulum kelas pendidikan agama di sebuah sekolah mengajarkan toleransi dan paham keagamaan yang ramah. Namun para siswa mendapatkan inspirasi ajaran agama yang keras dan intoleran dari kegiatan-kegiatan dalam ruang publik sekolah, baik yang formal maupun non-formal, yang secara resmi mengajukan ijin ataupun tidak.
Oleh karena itu jika konsen utamanya mengantisipasi pemahaman keagamaan yang ekstrim atau radikal, Kemenag dan Kemendikbud dengan bekerjasama dengan manajemen sekolah harus memastikan ide radikalisme dan intoleransi bukan saja tidak berkembang di kelas pendidikan agama tapi sekaligus juga dalam ruang-ruang publik sekolah.
Terakhir, sekali lagi kita semua patut mendukung dan ikut serta untuk mengupayakan peran agama terhadap pendidikan. Harapan kita yang besar terhadapnya semoga tidak dikecewakan oleh berbagai pihak yang tidak senang dengan campur tangan agama dan pendidikan. Diantara upaya untuk memenuhi harapan itu antara lain bisa kita lihat dari sejauh mana semua pihak serius melanjutkan inisiasi yang baik ini dengan sungguh-sungguh.



Sabtu, 20 Agustus 2016

PARADIGMA PENDIDIKAN INDONESIA



Pendidikan adalah hal terpenting dalam kehidupan seseorang. Melalui pendidikan, seseorang dapat meraih kedudukan yang terhormat, memiliki karir yang baik serta dapat berperilaku sesuai norma-norma yang berlaku. Karena pada hakikatnya pendidikan membuat peserta didik untuk berusaha sadar dan terencana secara etis, sistematis, intensional dan kreatif dimana ia dapat mengembangkan potensi diri, kecerdasan, pengendalian diri dan keterampilan untuk membuat dirinya berguna di masyarakat.
Pendidikan yang baik dapat diraih apabila terdapat keseimbangan dalam pola penyusunan belajar secara kognitif (pengetahuan) dan afektif (perilaku). Kedua hal tersebut dapat menjadikan peserta didik tidak hanya memiliki kualitas yang tinggi, namun juga menjadi peserta yang berkarakter thoyyibah. Layaknya tujuan pendidikan yang telah diamanatkan UU RI No 20 tahun 2003  yaitu untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab demi keberlangsungan masa depan bangsa Indonesia.
Dengan keberagaman etnik yang ada di Indonesia dan ditambah dengan luasnya wilayah   yang ada, tentu diperlukan suatu manajemen yang baik untuk mencapai standar pelayanan dan standar nasional pendidikan yang tinggi. Dengan tercapainya kedua hal ini, tentunya mutu pendidikan secara nasional pun dapat dicapai. Namun hal itu tak dapat diraih layaknya membalikkan sebuah telapak tangan. Dibutuhkan sebuah usaha yang keras dan bantuan dari berbagai pihak untuk mewujudkan hal tersebut.
Masalah klasik yang mendera pendidikan Indonesia sangatlah beragam, dari mulai kurangnya persebaran guru di daerah-daerah, fasilitas pendidikan yang tergolong minim, kualitas yang terus menurun baik dari sisi guru maupun murid, rendahnya korelasi dunia pendidikan dengan pekerjaan dan kurangnya kecakapan pemerintah untuk menangani segala bentuk permasalahan yang ada. Lulusan – lulusan sarjana dunia pendidikan lebih memilih untuk berkarier menjadi guru di daerah perkotaan, sehingga masyarakat yang ada di desa kekurangan stok guru yang mau mengajar mereka. Hal ini disebabkan kesejahteraan mereka yang tidak terjamin apabila mengajar di luar perkotaan. Lalu kualitas para pendidik yang ada terus merosot dari tahun ke tahun. Mereka hanya tahu bagaimana cara mempresentasikan suatu materi pembelajaran tanpa perlu mengetahui apakah murid tersebut dapat memahami isi materi tersebut. Hal ini pula yang mengakibatkan indeks pembangunan pendidikan atau education development index (EDI) Indonesia berada di posisi ke-69 dari 127 negara di dunia. Data tersebut diperoleh pada tahun 2011 berdasarkan riset yang dikeluarkan oleh yang dikeluarkan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO). Indeks tersebut menunjukkan tingkat partisipasi murid dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.
Kurangnya korelasi antara dunia pendidikan dengan pekerjaan pun mengakibatkan tingkat kepercayaan yang rendah terhadap dunia pendidikan. Penyaluran lulusan peserta didik ke dunia kerja masih belum berimbang dengan ketersediaan lapangan kerja. Semua ini harus cepat dicarikan solusi nya oleh pemerintah agar kedepannya permasalahan yang ada tidak hanya menjadi tumpukan karang yang sudah terlanjur mengeras dan membuat masa depan bangsa Indonesia menjadi korban dari carut marut dunia pendidikan yang sudah terlanjurtak dapat dihentikan oleh pendahulunya.