Senin, 22 Agustus 2016

Nama : Abdul Rohman NIM :1445162357 #MPAMPFIPUNJ2016



UPAYA MEMAKSIMALKAN PERAN AGAMA DALAM PENDIDIKAN



 Dalam ajaran Islam, pendidikan memiliki kedudukan yang sangat penting karena manusia sebagai wakil Allah SWT di muka bumi memikul tugas dan tanggung jawab yang cukup berat. Oleh karena itu, agar manusia mampu menjalankan tanggung jawabnya dengan baik diperlukan sikap personalitas yang berkualitas dan ilmu pengetahuan yang sesuai dengan kehendak Allah. Hal itu hanya dapat dipenuhi melalui proses pendidikan. Tugas manusia yang pertama adalah menjadi hamba Allah yang taat, sebagaimana firman Allah dalam Al Quran Surat Adz-Dzariyat 56, yang artinya:“ Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mengabdi (ibadah) kepada-Ku. Manusia diperintah untuk beribadah hanya kepada Allah,karena tidak ada tuhan selain Dia. Sembahlah Allah, sekali-kali tak ada tuhan bagimu selain-Nya” (Q.S. Al-A’raaf: 59). Tugas manusia yang kedua adalah sebagai khalifah di muka bumi yang menuntut tanggung jawab yang berat. Tanggung jawab tersebut berkaitan erat dengan pernyataan Allah dalam Al Quran surat Al-Baqarah ayat 30, yang artinya: “Ingatlah ketika Allah berfirman kepada malaikat: Aku akan menciptakan seorang khalifah di muka bumi”. Bumi yang merupakan tempat tinggal bagi manusia untuk sementara, pengelolaanya diserahkan kepada manusia. Hal ini ditegaskan oleh Allah dalam Al Quran surat Al-An’am ayat 165 yang artinya“ Dan Dialah yang menjadikan kamu pengelola bumi ”. Mengelola berarti menjaga, memelihara, melestarikan, memberdayakan dan memanfaatkannya untuk dijadikan sarana penunjang dalam beribadah kepada Allah. Bukan sebaliknya, yakni menciptakan kerusakan di muka bumi atau merasa bangga menjadi perusak alam. Allah sangat membenci orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi dan malapetaka akan menimpa manusia itu sendiri apabila memperlakukan alam sekehendak hatinya, sebagaimana firman-Nya dalam surat Ar-Rum ayat 41 yang artinya : “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. Diangkatnya manusia sebagai khalifah tidak semata-mata perintah Allah, melainkan ada kesanggupan dari manusia itu sendiri, setelah makhluk lain menolaknya karena khawatir akan menghianatinya. Dengan kata lain, hanya manusia yang sanggup mengemban amanah Allah yang maha berat itu. Penghambaan manusia kepada Allah yang dibuktikan dalam bentuk beribadah kepada-Nya, pada hakekatnya merupakan perwujudan rasa syukur atas segala karunia dan ni’mat Allah. Orang yang beriman menyadari bahwa dirinya telah menerima limpahan kasih sayang yang tak terhingga dari Allah, dengan diangkatnya derajat manusia yang lebih tinggi dari mahkluk lainnya. Diberinya akal dan kemampuan berpikir merupakan sarana yang ampuh dalam rangka mengemban tugas sebagai khalifah. Proses pendidikan tidak dapat dipisahkan dengan peranan akal, sehingga pentingnya pendidikan dalam pandangan Islam berkaitan erat dengan penggunaan akal, hati, dan panca indera untuk berpikir dan mendekatkan diri kepada Allah.. Alangkah ruginya manusia yang telah banyak menerima karunia dari Allah, tetapi tidak mau menggunakannya untuk memikirkan ciptaan, kekuasaan, keesaan, dan keagungan sang Maha Pencipta(Allah SWT). Derajat manusia yang tinggi itu dapat jatuh ke tempat yang lebih rendah dari binatang (QS. Al-A’raf: 179). Betapa pentingnya pendidikan, karena hanya dengan proses pendidikanlah manusia dapat mempertahankan eksistensinya sebagai manusia yang mulia, melalui pemberdayaan potensi dasar dan karunia yang telah diberikan Allah. Apabila semua itu dilupakan dengan mengabaikan pendidikan, manusia akan kehilangan jati dirinya. Namun perlu digarisbawahi, bahwa pendidikan yang dimaksud adalah pendidikan berdasarkan konsep Islam sesuai dengan petunjuk Allah.
Secara garis besar, konsepsi pendidikan dalam Islam adalah mempertemukan pengaruh dasar dengan pengaruh ajar. Pengaruh pembawaan dan pengaruh pendidikan diharapkan akan menjadi satu kekuatan yang terpadu yang berproses ke arah pembentukan kepribadian yang sempurna. Oleh karena itu, pendidikan dalam Islam tidak hanya menekankan kepada pengajaran yang berorientasi kepada intelektualitas penalaran, melainkan lebih menekankan kepada pendidikan yang mengarah kepada pembentukan keribadian yang utuh dan bulat. Pendidikan Islam menghendaki kesempurnaan kehidupan yang tuntas sesuai dengan firman Allah pada surat Al Baqarah ayat 208, yang artinya : “Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”. Bagi manusia pendidikan penting sebagai upaya menanamkan dan mengaktualisasikan nilai-nilai Islam pada kehidupan nyata melalui pribadi-pribadi muslim yang beriman dan bertakwa, sesuai dengan harkat dan derajat kemanusiaan sebagai Khalifah di atas bumi. Penghargaan Allah terhadap orang-orang yang berilmu dan berpendidikan dilukiskan pada ayat berikut. “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi pengetahuan derajat (yang banyak) (QS. Al-Mujadalah 11”. Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai ilmu pengetahuan jika kamu tidak mengetahui” (QS, An-Nahl 43). “ Katakanlah :”Adakah sama orang-orang yangmengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui (QS.Az.Zumar:9). Pentingnya pendidikan telah dicontohkan oleh Allah pada wahyu pertama, yaitu surat Al-Alaq ayat 1-5 yang banyak mengandung isyarat-isyarat pendidikan dan pengajaran dengan makna luas dan mendalam. Prilaku Nabi Muhammad saw sendiri, selama hayatnya sarat dengan nilai-nilai pendidikan yang tinggi. Dari kutipan-kutipan di atas dapat disimpulkan bahwa dalam ajaran Islam pendidikan menduduki posisi yang sangat penting. Mengingat bahwa keberadaan manusia di dunia ini mengemban tugas dan tanggung jawab yang berat, baik sebagai hamba Allah maupun sebagai khalifah di muka bumi. Kedua tugas tersebut dalam pelaksanaanya merupakan satu kesatuan yang terintegrasi didalam prilaku seseorang. Dengan demikian, pendidikan memegang peranan penting dalam membentuk manusia yang bersedia mengabdi kepada Allah, dengan menyelaraskan aktivitas peribadatan dalam konteks hablum minallah, hablum minannaas dan hablum minal ‘alam.
Atas dasat itulah, pendidikan yang idealnya dapat meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan serta berupaya merekonstruksi suatu peradaban adalah pendididikan yang memenuhi kebutuhan asasi setiap manusia. Hal ini juga merupakan pekerjaan wajib yang harus diemban oleh negara agar dapat membentuk masyarakat yang memiliki pemahaman dan kemampuan untuk menjalankan fungsi-fungsi kehidupan selaras dengan fitrahnya serta mampu mengembangkan kehidupannya menjadi lebih baik dari setiap masa ke masa. Kesemuanya itu tidak luput dari peran ilmu agama sebagai pembentuk karakteristik dan mental peserta didik yang berbudi luhur. Sehingga, penguasaan terhadap ilmu, pengetahuan-teknologi, aspek-aspek materi (hasil-hasil teknologi) dan kemajuan-kemajuan lainnya merupakan sesuatu yang harus disadari oleh peserta didik sebagai kebutuhan dan kewajiban yang harus selalu dilaksanakan dalam menjaga keharmonisan kehidupan.
Dalam kaitannya mengenai Pendidikan Nasional dijelaskan pada Pasal 1 ayat (2) bahwa, “Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia yang berakar pada nilai-nilai agama kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman. Dalam pasal ini juga dijelaskan bagaimana peranan agama dalam pendidikan dimana pelaksanaan Pendidikan Nasional berakar pada Pancasila dan nilai-nilai agama. Dan dalam UU No.20 Tahun 2003 mengenai Sistem Pendidikan Nasional Pasal 30 Ayat (2) juga dijelaskan bagaimana fungsi keagamaan yang mana pendidikan keagamaan disini berfungsi untuk mempersiapkan perserta didik menjadi anggota masyarakat yang memahami dan mengamalkan nilai – nilai ajaran agamanya dan / atau menjadi ahli ilmu agama. Dan jika para siswa dibekali dengan pengetahuan keagamaan yang lebih maka potensi terciptanya akhlak yang baik oleh siswa akan lebih tinggi. Siswa seharusnya mampu memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Pendidikan keagamaan dalam sekolah formal dirasa memang sangat kurang karena hanya terdapat satu mata pelajaran saja. Akan lebih baik juga mata pelajaran agama sedikit lebih diperbanyak dan dikembangkan menjadi lebih sederhana juga.
Adanya kurikulum bukanlah menjadi elemen satu-satunya pembentuk nilai toleransi di sekolah. Salah satu elemen lain yang sangat menentukan adalah ruang publik sekolah. Ruang publik sekolah (school public space), sederhananya, adalah ruang sosial di dalam lingkungan sekolah yang menjadi tempat berinteraksinya warga sekolah secara terbuka. Ruang ini bukan semata tempat fisik, tapi lebih-lebih tempat bertemu dan berkreasinya siswa.
Bisa saja kurikulum kelas pendidikan agama di sebuah sekolah mengajarkan toleransi dan paham keagamaan yang ramah. Namun para siswa mendapatkan inspirasi ajaran agama yang keras dan intoleran dari kegiatan-kegiatan dalam ruang publik sekolah, baik yang formal maupun non-formal, yang secara resmi mengajukan ijin ataupun tidak.
Oleh karena itu jika konsen utamanya mengantisipasi pemahaman keagamaan yang ekstrim atau radikal, Kemenag dan Kemendikbud dengan bekerjasama dengan manajemen sekolah harus memastikan ide radikalisme dan intoleransi bukan saja tidak berkembang di kelas pendidikan agama tapi sekaligus juga dalam ruang-ruang publik sekolah.
Terakhir, sekali lagi kita semua patut mendukung dan ikut serta untuk mengupayakan peran agama terhadap pendidikan. Harapan kita yang besar terhadapnya semoga tidak dikecewakan oleh berbagai pihak yang tidak senang dengan campur tangan agama dan pendidikan. Diantara upaya untuk memenuhi harapan itu antara lain bisa kita lihat dari sejauh mana semua pihak serius melanjutkan inisiasi yang baik ini dengan sungguh-sungguh.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar